Irama Jiwa – Putri Bajrakitiyabha Mahidol, putri sulung Raja Vajiralongkorn, pertama kali jatuh koma pada Desember 2022. Saat itu ia mengalami kolaps mendadak ketika tengah melatih anjing peliharaannya dalam kegiatan militer di wilayah Nakhon Ratchasima. Peristiwa tersebut disebabkan gangguan jantung akibat infeksi, yang memicu kondisi kritis hingga akhirnya ia tidak pernah sadar kembali.
Sejak kejadian tersebut, pihak istana Thailand merahasiakan detail kondisi kesehatan sang putri. Informasi publik hanya disampaikan secara terbatas, hingga akhirnya pada pertengahan 2025 muncul pernyataan resmi mengenai kondisi medisnya. Hingga kini, Putri Bajrakitiyabha masih dalam keadaan koma dengan ketergantungan penuh pada perawatan intensif di rumah sakit kerajaan.
Laporan terbaru menyebutkan bahwa sang putri mengalami infeksi aliran darah berat. Kondisi ini membuat tekanan darahnya tetap rendah meski sudah diberikan berbagai obat penunjang. Tim medis menggunakan antibiotik spektrum luas dan obat-obatan lain untuk mempertahankan fungsi vitalnya.
Selain itu, organ penting seperti paru-paru dan ginjal juga tidak bekerja optimal sehingga harus didukung dengan alat medis. Keadaan ini membuat pengobatan yang dilakukan tidak hanya bersifat jangka pendek, tetapi memerlukan pemantauan intensif sepanjang waktu. Para dokter pun masih berupaya keras menjaga stabilitas tubuhnya meskipun peluang untuk pulih sangat kecil.
Baca Juga : Hasil Tes DNA Tegaskan Ridwan Kamil Bukan Ayah Biologis CA
Sebelum jatuh sakit, Putri Bajrakitiyabha dikenal sebagai figur kerajaan yang berprestasi. Ia menempuh pendidikan tinggi di luar negeri, bahkan berhasil meraih gelar master dan doktor di bidang hukum dari Universitas Cornell, Amerika Serikat. Latar belakang akademiknya menjadikannya sosok yang dihormati, tidak hanya di kalangan keluarga kerajaan tetapi juga di dunia internasional.
Dalam perjalanan karier, ia sempat menjabat sebagai duta besar Thailand untuk Austria, Slovenia, dan Slovakia pada periode 2012–2014. Tak hanya itu, ia juga aktif dalam organisasi internasional, termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), serta berperan dalam lembaga hukum di negaranya. Dengan pengalaman tersebut, banyak pihak menilai ia memiliki kualitas kepemimpinan yang mumpuni untuk menjadi pewaris takhta.
Selain dunia diplomasi, Putri Bajrakitiyabha juga memiliki kiprah di bidang militer. Ia pernah menjabat sebagai perwira tinggi di unit keamanan kerajaan yang bertugas melindungi anggota keluarga kerajaan. Kombinasi antara pendidikan, pengalaman diplomasi, dan peran militer membuat dirinya menjadi figur yang menonjol di mata rakyat Thailand.
Sebelum jatuh sakit, banyak pengamat menyebut bahwa Putri Bajrakitiyabha adalah kandidat paling kuat untuk menggantikan ayahnya suatu hari nanti. Ia dinilai sebagai sosok yang bisa menjembatani tradisi monarki dengan kebutuhan modernitas. Namun, kondisi kesehatannya kini membuat peran strategis itu menjadi tanda tanya besar.
Simak Juga : Casio Edifice Slim Line EFR-S108DE Hadir dengan Tiga Model Dial Tekstur Baru
Koma panjang yang dialami sang putri membawa dampak besar pada isu suksesi di Kerajaan Thailand. Raja Vajiralongkorn yang kini sudah menua belum secara resmi menunjuk pengganti. Dalam situasi normal, Putri Bajrakitiyabha adalah calon yang paling logis untuk melanjutkan garis monarki.
Namun dengan kondisi kesehatan yang kritis, peluang itu kini beralih ke anggota keluarga kerajaan lain. Kandidat yang mulai diperhitungkan adalah Pangeran Dipangkorn, adik sang putri, yang meskipun masih muda dipandang lebih realistis untuk mengemban tanggung jawab takhta. Situasi ini menambah dinamika politik dan ketidakpastian mengenai masa depan monarki Thailand.
Beberapa hal yang menjadi perhatian publik antara lain:
Kondisi panjang koma yang dialami sang putri mengundang perhatian media internasional. Banyak pemberitaan menyoroti bagaimana keluarga kerajaan menghadapi krisis internal ini, sekaligus bagaimana rakyat Thailand bereaksi terhadap kabar yang disampaikan.
Di sisi lain, publik juga memperlihatkan simpati mendalam terhadap sang putri. Banyak yang menganggapnya sebagai simbol harapan bagi generasi baru kerajaan Thailand. Keterbukaan informasi mengenai kesehatannya pun menjadi sorotan, karena sebelumnya pihak istana dikenal sangat tertutup mengenai isu-isu internal.
Alih-alih menutup dengan kesimpulan, penting menyoroti refleksi lebih luas terkait kondisi Putri Bajrakitiyabha. Kasus ini menunjukkan bagaimana monarki modern masih menghadapi tantangan besar: menjaga tradisi, menghadapi sorotan publik, sekaligus menyiapkan regenerasi kepemimpinan.
Kondisi sang putri juga menjadi pengingat bahwa kekuasaan dan status tidak kebal terhadap masalah kesehatan. Ketika figur sentral kerajaan tidak mampu lagi menjalankan perannya, maka muncul kebutuhan mendesak untuk menata ulang arah kepemimpinan. Dengan demikian, kisah Putri Bajrakitiyabha tidak hanya menyangkut nasib seorang putri kerajaan, tetapi juga masa depan politik dan stabilitas sebuah bangsa.