Irama Jiwa – Nama Taylor Swift kini identik dengan kesuksesan besar di industri musik global. Menurut laporan Forbes, ia menjadi musisi perempuan pertama dengan total kekayaan bersih mencapai sekitar USD 1,6 miliar atau setara Rp 26 triliun. Dari jumlah tersebut, sekitar USD 800 juta atau Rp 13 triliun berasal dari royalti musik dan pendapatan tur. Jumlah fantastis ini membuktikan betapa besar peran hak cipta dan manajemen karya dalam membangun kekayaan jangka panjang.
Strategi Taylor dalam mempertahankan hak cipta patut dicontoh. Ia melakukan re-recording terhadap katalog lagu lamanya dengan label Taylor’s Version, sehingga memperoleh kendali penuh atas karya yang sebelumnya dimiliki label lain. Selain itu, konser berskala global seperti Eras Tour menambah pundi-pundi penghasilan sekaligus memperkuat basis penggemar. Keberhasilan ini menjadi bukti nyata bagaimana royalti musik dapat menjadi aset bernilai besar ketika dikelola dengan cerdas.
Berbeda dengan kisah sukses Taylor, kondisi royalti musik di Indonesia masih penuh perdebatan. Meski undang-undang sudah mengatur soal hak cipta, implementasinya seringkali menimbulkan kebingungan. Hal ini terlihat dari kasus yang ramai dibicarakan, mulai dari denda bagi restoran hingga perdebatan apakah warung kopi kecil juga wajib membayar royalti musik.
Kendala lain adalah sistem distribusi yang belum transparan. Banyak musisi merasa belum merasakan manfaat nyata dari iuran yang dikumpulkan. Di sisi lain, pelaku usaha pun kerap ragu untuk memutar musik di ruang publik karena takut terjerat masalah hukum. Situasi ini menunjukkan perlunya pembenahan menyeluruh agar sistem royalti di Indonesia bisa lebih adil dan berfungsi sebagaimana mestinya.
Baca Juga : Soundtrack Film Indonesia Paling Populer 2025: Musik yang Membuat Layar Lebih Hidup
Beberapa hambatan utama dalam praktik royalti musik di Indonesia dapat dirangkum sebagai berikut:
Kendala-kendala ini membuat kepercayaan publik terhadap lembaga pengelola royalti cenderung lemah. Padahal, sistem yang jelas dan transparan dapat memberi keuntungan bagi musisi sekaligus pelaku usaha.
Meski konteksnya berbeda, ada beberapa pelajaran berharga dari keberhasilan Taylor Swift dan sistem royalti musik di negara lain:
Jika poin-poin ini bisa diterapkan di Indonesia, sistem royalti musik berpotensi lebih sehat dan mampu mendukung kehidupan para musisi.
Simak Juga : Hijau yang Menyehatkan Manfaat Sayur-Sayuran untuk Tubuh
Alih-alih menutup dengan kesimpulan, menarik untuk membahas arah masa depan royalti musik di Indonesia. Dengan perkembangan teknologi digital dan meningkatnya kesadaran publik, peluang untuk menciptakan sistem yang lebih adil sebenarnya terbuka lebar.
Langkah penting yang bisa diambil adalah memperkuat sistem pencatatan digital di ruang publik, mensosialisasikan aturan dengan jelas, serta memastikan distribusi royalti berjalan transparan. Jika hal ini terwujud, royalti musik bukan lagi sumber perdebatan, melainkan instrumen penting untuk mendukung kreativitas dan kesejahteraan musisi Indonesia.